HAKEKAT BIMBINGAN KONSELING

HAKEKAT BIMBINGAN KONSELING

 

1.        Pengertian Bimbingan dan Konseling

Secara kebahasaan istilah bimbingan dan konseling berasal dari bahasa Inggris yaitu “Guidance and Counseling”.

Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang yang ahli kepada seseorang atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa, agar orang yang dibimbing mendapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri, dengan memanfaatkan kekuatan individu yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku.

Konseling adalah suatu proses memberi bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (yang disebut konselor)kepada individu yang sedang mengalami suatu masalah (disebut klien)yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien.

2.        Tujuan Bimbingan dan Konseling

a)    Tujuan umum

Tujuan umum bimbingan dan konseling dengan mengikuti pada perkembangan konsepsi bimbingan konseling pada dasarnya adalah untuk membantu individu memperkembangkan diri secara optimal sesuai dengan tahap perkembangan dan prediposisinya yang dimilikinya (seperti latar belakang keluarga, pendidikan, status sosial ekonomi), serta sesuai dengan tuntutan positif lingkungannya.b)   Tujuan khusus

Tujuan khusus bimbingan dan konseling merupakan penjabaran tujuan umum tersebut yang dimaksudkan untuk membantu individu agar dapat mencapai tujuan-tujuan perkembangan meliputi aspek pribadi sosial, belajar dan karier. Dan dikaitkan secara langsung dangan permasalahan yang dialami individu yang bersangkutan, sesuai dengan kompleksitas permasalahannya itu.

3.        Persamaan dan Perbedaan bimbingan konseling

a) Hubungan antara bimbingan dan konseling

Menurut Mohamad Surya (1988), ada tiga pandangan mengenai hubungan antara bimbingan dan konseling. Pandangan pertama berpendapat bahwa bimbingan sama dengan konseling. Kedua istilah tidak mempunyai perbedaan yang mendasar.

Pandangan kedua berpendapat bahwa bimbingan berbeda dengan konseling, baik dasar maupun cara kerja. Menurut pandangan kedua, bimbingan merupakan pendidikan sedangkan konseling merupakan psikoterapi yaitu usaha untuk menolong individu yang mengalami masalah serius.

Pandangan ketiga berpendapat bahwa bimbingan dan konseling merupakan kegiatan yang terpadu, keduanya tidak saling terpisah.Berkaitan dengan pandangan ketiga ini, Downing (1998); Hansen, Stefic, dan Warner (1977) dalam Prayitno (1978), menyatakan bahwa bimbingan adalah suatu pelayanan khusus yang terorganisasi dan terintegrasi ke dalam program sekolah untuk menunjang kegiatan perkembangan siswa secara optimal, sedangkan konseling adalah usaha pemberian bantuan kepada murid secara perorangan dalam mempelajari cara-cara baru guna penyesuaian diri.

Moser dan Moser (dalam Prayitno, 1978:643) menyatakan bahwa di dalam keseluruhan pelayanan bimbingan, konseling dianggap sebagai inti dari proses pemberian bantuan.

Mortesen dan Schmuller (1976:56) menyatakan bahwa konseling adalah jantung hatinya program bimbingan.

b) Persamaan antara bimbingan dan konseling

Istilah bimbingan dan konseling pada dasarnya memiliki persamaan-persamaan tertentu. Persamaan yang lebih jelas antara keduanya terletak pada tujuan yang hendak dicapai, yaitu sama-sama berusaha untuk memandirikan individu, sama-sama diterapkan dalam program persekolahan, sama-sama mengikuti norma-norma yang berlaku dilingkungan masyarakat tempat kedua kegiatan itu diselenggarakan. Dengan kata lain, bimbingan itu merupakan satu kesatuan dengan konseling yang mana konseling berada dalam kesatuan bimbingan tersebut.

c) Perbedaan antara bimbingan dan konseling

Perbedaan antara bimbingan dan konseling terletak pada segi isi kegiatan dan tenaga yang menyelenggarakan.

Dari segi isi, bimbingan lebih banyak bersangkut paut dengan usaha pemberian informasi dan dan kegiatan pengumpulan data tentang siswa dan lebih menekankan pada fungsi pencegahan, sedangakan konseling merupakan bantuan yang dilakukan dalam pertemuan tatap muka antara dua orang manusia yaitu antara konselor dan klien.

Dari segi tenaga, bimbingan dapat dilakukan oleh orang tua, guru, wali kelas, kepala sekolah, orang dewasa lainnya. Namun, konseling hanya dapat dilakukan oleh tenaga-tenaga yang telah terdidik dan terlatih.

Dengan kata lain, konseling merupakan bentuk khusus bimbingan yaitu layanan yang diberikan oleh konselor kepada klien secara individu.

Bimbingan dan konseling berasal dari dua kata yaitu bimbingan dan konseling. Bimbingan merupakan terjemahan dari guidance yang didalamnya terkandung beberapa makna. Sertzer & Stone (1966:3) menemukakan bahwa guidance berasal kata guide yang mempunyai arti to direct, pilot, manager, or steer (menunjukkan, menentukan, mengatur, atau mengemudikan). Sesuai dengan istilahnya, maka bimbingan dan konseling dapat diartikan secara umum sebagai suatu bantuan. Namun untuk pengertian sebenarnya, tidak setiap bantuan adalah bimbingan.

Sedangkan konseling menurut Prayitno dan Erman Amti (2004:105) adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien.

Prinsip – prinsip bimbingan konseling yang akan dibahas adalah prinsip – prinsip umum yaitu :

  1. Karena bimbingan itu berhubungan dengan sikap dan tingkah laku individu, perlulah diingat bahwa sikap dan tingkah laku individu terbentuk dari segala aspek kepribadian yang unik dan ruwet. Sikap dan tingkah laku individu bersumber dari aspek yang sangat unik, maka perlu ditanamkan pada diri konselor bahwa setiap individu itu berbeda. Seorang konselor tidak boleh menyamakan sikap dan tingkah laku semua kliennya meskipun mungkin statusnya sama. Misalnya sama – sama peserta didik, sama – sama laki – laki, sama masalah yang dihadapi, dan lain sebagainya.
  2. Perlu dikenal dan dipahami perbedaan individual daripada individu – individu yang dibimbing, ialah untuk memberikan bimbingan tepat sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh individu yang bersangkutan. Seorang konselor harus benar – benar kenal dan paham karakter dari kliennya. Jangan sampai seorang konselor memberikan bimbingan yang tidak tepat pada seorang klien karena manusia itu unik. Berbeda setiap individu, berbeda cara berfikir, dan juga berbeda dalam menghadapi suatu masalah. Perlu pengenalan yang lebih dalam sebelum seorang konselor memberikan bimbingan kepada kliennya.
  3. Bimbingan yang berpusat pada individu yang dibimbing. Konselor hendaknya memberikan bimbingan terpusat terhadap kliennya. Hal ini dimaksudkan agar konselor tidak membanding-bandingkan antara masalah klien satu dengan klien yang lain. Kemungkinan klien- klien itu memang memiliki kesamaan masalah. Namun setiap klien memiliki karakter yang berbeda. Maka dari itu hendaknya konselor memperhatikan kliennya secara utuh.
  4. Masalah yang tidak dapat diselesaikan di sekolah harus diserahkan kepada individu atau lembaga yang mampu dan berwenang melakukannya. Dalam bimbingan kemungkinan konselor tidak  mampu menghadapi masalah. Sebagai konselor yang baik hendaknya ia tidak tinggal diam. Namun konselor harus mencarikan alternatif jalan atas masalah yang sedang dihadapi klien. Entah itu mengembalikan masalah ke klien setelah diberikan beberapa bimbingan dan pengarahan, atau mungkin meminta bantuan pihak lain untuk membantu. Sebagai contoh jika guru BK di sekolah tidak mampu menghadapi masalah siswa. Hendaknya guru tersebut bersedia menghubungi orang tua siswa kemudian berdiskusi bersama untuk mencari jalan keluar yang baik.
  5. Bimbingan harus dimulai dengan identifikasi kebutuhan – kebutuhan yang dirasakan oleh individu yang dibimbing. Bimbingan kepada klien tidak bisa asal diberikan. Sebelum bimbingan dilakukan hendaknya konselor mengidentifikasi kondisi kebutuhan yang diperlukan klien. Kebutuhan yang dimaksud tidak hanya kebutuhan lahiriah tapi juga kebutuhan rohaniah. Seperti halnya mengetahui background dan  keadaan psikis klien.
  6. Bimbingan harus fleksibel sesuai dengan program pendidikan sekolah yang bersangkutan. Bimbingan yang diberikan konselor kepada klien hendaknya disesuaikan dengan program sekolah yang bersangkutan sehingga tidak terjadi tumpangtindih antar keduanya.
  7. Pelaksanaan program bimbingan harus dipimpin oleh seorang petugas yang memiliki keahlian dalam bidang bimbingan dan sanggup bekerjasama dengan para pembantunya serta dapat dan bersedia mempergunakan sumber – sumber yang berguna diluar sekolah.
  8. Untuk di sekolah biasanya bimbingan diberikan oleh seorang ahli bernama guru Bimbingan konseling. Namun tidak mustahil jika dalam praktikknya guru Bimbingan Konseling bekerjasama dengan wali kelas dan orangtua.
  9. Terhadap program bimbingan harus senantiasa diadakan penilaian yang teratur untuk mengetahui sampai dimana hasil dan manfaat yang diperoleh serta penyesuaian antara pelaksanaan dan rencana yang dirumuskan terdahulu

Sumber:

Ahmad Ardian Firdaus ( Internet )

Mugiarso, Heru. Bimbingan dan Konseling. 2007. Semarang: UPT MKK Universitas Negeri Semarang.

Marjohan, Erman Amti. Bimbingan dan Konseling. 1991. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan

APA ITU GURU ?

Guru,begitu penting,begitu lekat,begitu dekat dan  lebih mirip Ujung tombak! ketimbang hanya “manusia yang cerdas” dan  berpengalaman” dia begitu Tajam,begitu ramah dan ada yang begitu tegas,bahkan keras! tapi sekali lagi itu adalah Guru.

Apa persoalan yang menyebabkan M.Nuh dalam sebuah sambutannnya mengatakan “Kita harus memajukan segi pendidikan berkarakter”.Ini mungkin memang suatu kalimat yang simple,ditengah gejolak negara yang angka ,kebrutalan Moralnya sudah sangat banyak menurut saya dan ini dibuktikan oleh survey -survey lembaga Korupsi seperti ICW,ataupun survey 2 yang dilakukan mengenai jumlah Angka Kekerasan,angka pengangguran,dan tak pelak lagi yang paling mempengaruhi untuk yang namanya “PENDIDIKAN” memang tanggung jawab moral bagi Semua,namun ini secara Legalitasnya menjadi tanggung jawab Seorang pendidik ,Guru jawabannya.

Mungkin kawan-kawan dan Saudara saudara pernah baca Harian Kompas ,bahwa Kepala Badan Pengembangan SDM dan Penjamin Mutu Pendidikan Syawal Gultom mengatakan, rasio jumlah guru berbanding jumlah peserta didik di Indonesia merupakan yang “termewah” di dunia. Rasio di Indonesia, ungkapnya, sekitar 1:18. Angka tersebut lebih baik jika dibandingkan dengan negara maju seperti Korea (1:30), atau Jerman (1:20).Akan tetapi, ia mengakui, angka rasio yang “mewah” itu tidak diimbangi dengan sistem pendistribusian yang cukup baik. Menurutnya, kurangnya tenaga guru di berbagai daerah dipicu oleh sistem yang kurang baik dalam pendistribusian guru.

Ketika Jepang terpuruk karena kekalahan perang dunia ke-2, yang ditanyakan kaisar bukanlah berapa prajurit yang masih hidup, tetapi berapa guru yang masih hidup. Inilah yang menjadi kunci sukses jepang sampai saat ini, menjadi negara kecil yang maju. Guru berperan mencerdaskan bangsa yang akan mengubah nasib bangsa ini.

Guru menjadi salah satu komponen dalam pendidikan, ada berbagai tugas dan peran baik itu terkait langsung di sekolah maupun tidak.

 

Ada 7 peran guru menurut WF Connell (1972), yaitu;

(1) pendidik (nurturer)

(2) model

(3) pengajar dan pembimbing

(4) pelajar (learner)

(5) komunikator terhadap masyarakat setempat

(6) pekerja administrasi

(7) kesetiaan terhadap lembaga.

Peran guru yang pertama dan utama adalah sebagai pendidik. Guru menciptakan suasana belajar di kelas yang tidak hanya dibatasi oleh dinding, dengan sebelumnya melaksanakan perencanaan. Guru meneruskan atau  transmisi ilmu pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai lain yang sejenis yang belum diketahui anak dan seharusnya diketahui oleh anak. Selain itu juga berusaha agar anak mampu untuk menemukan sendiri ilmu pengetahuan itu. Sebagai bekal anak untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya.

Guru sebagai model adalah guru sebagai contoh atau teladan bagi anak khususnya dan masyarakat pada umumnya. Tentu saja karena model haruslah yang baik, segala tingkah lakunya tidak bertentangan dengan norma dan nilai yang berlaku dimasyarakat. Segala bentuk penyimpangan tidak akan terjadi jika guru, orang tua dan masyarakat mampu memberikan teladan yang baik bagi anak, potensi untuk berbuat yang melanggar norma, aturan itu akan semakin minim.

Guru sebagai pembimbing adalah guru berusaha membimbing anak agar dapat menemukan berbagai potensi yang dimilikinya, membimbing anak agar dapat mencapai dan melaksanakan tugas-tugas perkembangan mereka, sehingga dengan ketercapaian itu ia dapat tumbuh dan berkembang sebagai individu yang mandiri dan produktif. Setiap anak memiliki keunikan yang berbeda, sehingga hubungan guru dan anak bisa lebih bersifat lebih dekat, guru harus mampu mengenali kesulitan anak dan mengembangkan setiap potensi dan minat anak.

Proses yang terjadi di kelas bukanlah pengajaran tapi pembelajaran. Konsekuensinya adalah semua yang ada di dalam kelas itu belajar, guru bukan sedang mengisi botol kosong tapi mengajak untuk menemukan sendiri dengan bimbingan guru. Dalam kegiatan  pembelajaran guru senantiasa merefleksi apa yang telah dilakukannya dalam proses belajar. Jika ada hasil belajar  yang  kurang  memuaskan  atau  kondisi kelas dan anak yang tidak sesuai dengan yang diharapkan guru bisa mengadakan penelitian tindakan kelas. Penelitian ini menjadikan guru untuk belajar, mempelajari  teori  dan  mencoba  untuk  mempraktekannya untuk memperbaiki hasil belajar anak.

Peranan  guru  sebagai  komunikator  pembangunan  masyarakat. Seorang  guru diharapkan dapat  berperan  aktif  dalam  pembangunan di segala bidang  yang sedang dilakukan. Ia dapat mengembangkan  kemampuannya pada bidang-bidang dikuasainya. Guru bisa menjadi agen perubahan di dalam masyarakat. Sebagai pengagas atau mengkomunikasikan ide-ide untuk pembangunan  masyarakat. Khususnya bagi guru yang bertugas di daerah terpencil yang memang  guru  adalah  satu-satunya profesi yang mampu memberikan pendidikan tidak hanya pada anak tetapi juga masyarakat sekitar.

Guru sebagai administrator. Seorang guru tidak hanya sebagai pendidik  dan  pengajar, tetapi juga sebagai  administrator  pada  bidang  pendidikan  dan  pembelajaran. Oleh karena itu seorang guru dituntut bekerja secara administrasi teratur. Administrasi sekolah adalah pengaturan  dan  pendayagunaan  segenap  sumber  daya  sekolah secara efektif dan efisien dalam penyelenggaraan pendidikan  agar  tujuan  pendidikan di sekolah  tercapai secara optimal.

Guru harus setia terhadap lembaga, saat ini banyak guru enggan untuk ditempatkan di daerah terpencil, seharusnya itu tidak terjadi. Guru sebagai profesi yang menekankan pada kesetiaan pada lembaga, loyal pada negara. Seumpama kalau pun ia ditugaskan untuk mendidik anak-anak di ujung  timur  negara ini, seharusnya  ia mematuhinya karena itu juga untuk kepentingan negara ini.

Itulah ketujuh peran guru, tentunya jika semua peran dan tugas itu dilaksanakan dengan sepenuh hati dan tanggung jawab akan  mampu  memberikan perubahan berarti bagi anak dan umumnya bangsa.

25 November diperingati sebagai “Hari Guru” secara internasional, termasuk di Indonesia. Momentum peringatan ini sebaiknya juga digunakan untuk melakukan introspeksi. Ini merupakan  momentum  bagi guru, pahlawan  tanpa  tanda jasa untuk melakukan introspeksi diri tentang peran guru dalam mencerdaskan bangsa.

Guru adalah satu-satunya profesi yang menentukan dalam mengubah nasib bangsa. Hal ini karena  guru bertugas mendidik dan mengajar anak-anak bangsa, mengubah perilaku, membentuk karakter. Sebuah tugas yang sangat fundamental. Kalau bangsa Indonesia ingin melakukan  perbaikan keadaan bangsa Indonesia di masa datang, harapan  itu tertumpang  kepada guru, dan dunia pendidikan.

Guru  yang  profesional lah  yang  bisa mencerdaskan  bangsa  untuk  mengubah nasib bangsa ini. Menurut undang-undang guru dan dosen terdapat beberapa persyaratan seorang guru profesional, baik kualifikasi, ataupun  kompetensi. Seorang  guru  profesional harus berkualifikasi pendidikan minimal sarjana (S1). Sedangkan dari segi kompetensi, guru profesional harus memiliki empat kompetensi, yaitu : Pendagogik, Sosial, Kepribadian dan Profesional

MEMAHAMI GAYA BELAJAR SISWA YANG BERBEDA

 

MEMAHAMI GAYA BELAJAR SISWA YANG BERBEDA

 

Setelah mengetahui gaya belajar siswa, guru sebagai pendidik harus dapat memahami akan  kecenderungan kecerdasan siswa yang paling menonjol, oleh karena itu guru sebagai pendidik diharapkan memahami dan dapat  Mengetahui Gaya Belajar Siwa, saatnya sebagai guru kita menyesuaikan dengan gaya belajar mereka. Bagaimana kita menyesuaikan diri dengan gaya belajar mereka masing-masing?

Untuk pembelajar visual, di mana lebih banyak menyerap informasi melalui mata, hal-hal yang bisa kita lakukan untuk memaksimalkan kemampuan belajar mereka adalah:

  1. Biarkan mereka duduk di bangku paling depan, sehingga mereka bisa langsung melihat apa yang dituliskan atau digambarkan guru di papan tulis.
  2. Selain tulisan, buatlah lebih banyak bagan-bagan, diagram, flow-chart menjelaskan sesuatu.
  3. Putarkan film. Minta mereka untuk menuliskan poin-poin penting yang harus dihapalkan.
  4. Gunakan berbagai ilustrasi dan gambar.
  5. Tulis ulang apa yang ada di papan tulis.
  6. Gunakan warna-warni yang berbeda pada tulisan.

Untuk pembelajar auditory, di mana mereka lebih banyak menyerap informasi melalui pendengaran, hal-hal yang bisa dilakukan untuk memaksimalkan kemampuan belajar mereka adalah:

  1. Gunakan audio dalam pembelajaran (musik, radio, dll)
  2. Saat belajar, biarkan mereka membaca dengan nyaring dan suara keras.
  3. Seringlah memberi pertanyaan kepada mereka.
  4. Membuat diskusi kelas.
  5. Menggunakan rekaman.
  6. Biarkan mereka menjelaskan dengan kata-kata.
  7. Biarkan mereka menuliskan apa yang mereka pahami tentang satu mata pelajaran.
  8. Belajar berkelompok.

Sedangkan untuk pembelajar kinestetic, di mana mereka lebih banyak menyerap informasi melalui gerakan fisik, hal-hal yang bisa dilakukan untuk memaksimalkan kemampuan belajar mereka adalah:

  1. Perbanyak praktek lapangan (field trip).
  2. Melakukan demonstrasi atau pertunjukan langsung terhadap suatu proses.
  3. Membuat model atau contoh-contoh.
  4. Belajar tidak harus duduk secara formal, bisa dilakukan dengan duduk dalam posisi yang nyaman, walaupun tidak biasa dilakukan oleh murid-murid yang lain.
  5. Perbanyak praktek di laboratorium.
  6. Boleh menghapal sesuatu sambil bergerak, berjalan atau mondar-mandir misalnya.
  7. Perbanyak simulasi dan role playing.
  8. Biarkan murid berdiri saat menjelaskan sesuatu.

Dalam prakteknya, satu kelas biasanya terdiri dari tiga kelompok pembelajar semacam ini. Karena itulah, tidak bisa seorang guru hanya mempraktekkan satu metode belajar mengajar untuk diterapkan di seluruh kelas. Bayangkan jika guru mengajar hanya dengan metode ceramah mulai dari awal hingga akhir. Jika dalam satu kelas kecenderungannya lebih banyak pembelajar visual atau kinestetis, maka yang terjadi adalah suasana yang tidak menyenangkan.

Orang-orang visual dan kinestetis akan mulai merasa bosan dengan apa yang diomongkan, hingga yang terjadi mereka akan mulai mencari perhatian dengan berbagai hal yang mengganggu. Ada yang tidak mendengarkan, tidur di kelas, ataupun berlarian ke sana kemari karena tidak tahan untuk terus menerus mendengarkan apa yang dijelaskan oleh guru di dalam kelas.

Nah, dalam situasi semacam ini, guru-guru kreatif dan mempunyai inovasi yang tinggi akan segera mengganti proses belajar mengajar dengan mempertimbangkan keragaman gaya belajar siswa. Tidak lagi kemudian menggunakan metode ceramah, tetapi menggunakan metode yang lain yang memungkinkan, misalnya diskusi kelompok ataupun mengajak mereka dalam suatu permainan agar tidak membosankan.

Namun demikian, yang masih sering terjadi adalah, karena guru merasa tidak diperhatikan, mereka kemudian menggunakan kekuasaan mereka sebagai guru dengan melakukan bentakan yang keras, biasanya disertai ancaman kalau tidak mendengarkan maka mereka akan mendapatkan hukuman.

Pola belajar mengajar semacam ini tidak saja membuat proses belajar mengajar menjadi sesuatu yang mengerikan dan membuat trauma bagi anak didik, tetapi juga mengaduk-aduk dan menyita emosi guru secara terus menerus. Akibatnya, bisa ditebak, tekanan kerja yang semakin berat membuat proses belajar mengajar bagi guru menjadi beban yang tidak lagi menyenangkan.

Situasi semacam ini melahirkan “kalah-kalah”, di mana guru kalah karena walaupun sudah bekerja keras tetapi tidak bisa menikmati pekerjaannya, sementara bagi siswa juga kalah karena proses belajar mengajar tidak lagi menjadi proses yang menyenangkan, tetapi membuat trauma dan kesedihan untuk belajar.

Karena itulah, kreativitas dan kemampuan guru untuk memahami gaya belajar siswa sangat penting agar suasana di dalam kelas bisa dibangun dengan lebih kondusif dan menyenangkan untuk belajar. Dengan demikian, sekolah akan menjadi tempat yang menyenangkan, bagi guru, siswa, dan semua pihak yang terlibat di dalamnya.

Sumber :

1. Modul BK SMA Tahun 2012.

2. Internet, 15 Maret 2012.

3. Majalah Wanita UMMI No.6/XXII/Oktober 2010 M / 1431 H.